KAHARINGAN, AGAMA LELUHUR DAYAK


Kaharingan/Hindu Kaharingan adalah religi suku atau kepercayaan tradisional suku Dayak di Kalimantan.[1] [2] Istilah kaharingan artinya tumbuh atau hidup, seperti dalam istilah danum kaharingan (air kehidupan),[3] maksudnya agama suku atau kepercayaan …terhadap Tuhan Yang Maha Esa (Ranying), yang hidup dan tumbuh secara turun temurun dan dihayati oleh masyarakat Dayak di Kalimantan.
Pemerintah Indonesia mewajibkan penduduk dan warganegara untuk menganut salah satu agama yang diakui oleh pemerintah Republik Indonesia. Oleh sebab itu kepercayaan Kaharingan dan religi suku yang lainnya seperti Tollotang (Hindu Tollotang) pada suku Bugis, dimasukkan dalam kategori agama Hindu sejak 20 April 1980[4], mengingat adanya persamaan dalam penggunaan sarana kehidupan dalam melaksanakan ritual untuk korban (sesaji) yang dalam agama Hindu disebut Yadnya. Jadi mempunyai tujuan yang sama untuk mencapai Tuhan Yang Maha Esa, hanya berbeda kemasannya.
Tuhan Yang Maha Esa dalam istilah agama Kaharingan disebut Ranying. Kaharingan ini pertama kali diperkenalkan oleh Tjilik Riwut tahun 1944, saat Ia menjabat Residen Sampit yang berkedudukan di Banjarmasin. Tahun 1945, pendudukan Jepang mengajukan Kaharingan sebagai penyebutan agama Dayak. Sementara pada masa Orde Baru, para penganutnya berintegrasi dengan Hindu, menjadi Hindu Kaharingan. Pemilihan integrasi ke Hindu ini bukan karena kesamaan ritualnya. Tapi dikarenakan Hindu adalah agama tertua diKalimantan. Lambat laun, Kaharingan mempunyai tempat ibadah yang dinamakan Balai Basarah atau BALAI KAHARINGAN. Kitab suci agama mereka adalah panaturan dan buku-buku agama lain, seperti Talatah Basarah (Kumpulan Doa), Tawar (petunjuk tatacara meminta pertolongan Tuhan dengan upacara menabur beras), dan sebagainya.Dewasa ini, suku Dayak sudah diperbolehkan mencantumkan agama Kaharingan dalam Kartu Tanda Penduduk. Dengan demikian, suku Dayak yang melakukan upacara perkawinan menurut adat Kaharingan, diakui pula pencatatan perkawinan tersebut oleh negara. Hingga tahun 2007, Badan Pusat Statistik Kalteng mencatat ada 223.349 orang penganut Kaharingan di Indonesia.Tetapi di Malaysia Timur (Sarawak, Sabah), nampaknya kepercayaan Dayak ini tidak diakui sebagai bagian umat beragama Hindu, jadi dianggap sebagai masyarakat yang belum menganut suatu agama apapun.Pada tanggal 20 April 1980 Kaharingan dimasukan ke dalam agama Hindu Kaharingan.[5]Organisasi alim ulama Hindu Kaharingan adalah Majelis Besar Agama Hindu Kaharingan (MBAHK) pusatnya di Palangkaraya, Kalimantan Tengah.
Kaharingan adalah nama agama orang-orang Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah. Menurut orang Dayak Ngaju, Kaharingan tidak dimulai sejak zaman tertentu. Kaharingan telah ada sejak awal penciptaan, sejak Ranying Hatalla Langit menciptakan alam semesta. Bagi mereka, Kaharingan telah ada beribu-ribu tahun sebelum datangnya agama Hindu, Budha, Islam dan Kristen. Datangnya agama-agama tersebut ke tengah orang Dayak Ngaju menyebabkan Kaharingan dipandang sebagai Agama Helo (agama lama), Agama Huran (agama kuno), atau Agama Tato-hiang (agama nenek-moyang). Orang Dayak Ngaju memang tidak mempunyai nama khusus yang terberikan (given) untuk menyebutkan sistem kepercayaan mereka. Ketika bertemu dengan orang-orang non-Dayak, mereka menyebut agama mereka sebagai Agama Dayak atau Agama Tempon. Hans Schärer dalam disertasi doktoralnya menggunakan istilah Agama Ngaju (Ngaju Religion) untuk menyebutkan sistem kepercayaan dan praktek keagamaan asli orang Dayak Ngaju ini (buku asli 1946, 1963:12). Pandangan Schärer sangatlah kontras dengan pandangan umum pada waktu itu yang melihat orang Dayak sebagai orang yang “tanpa agama,” “kafir” atau “heiden”.
Sekitar pertengahan tahun 1945, kepercayaan asli orang Dayak ini telah mempunyai nama tersendiri yaitu Kaharingan. Nama Kaharingan mulai dipakai ketika pemerintah Jepang memanggil dua orang Dayak Ngaju yang bernama Damang Yohanes Salilah dan W.A. Samat, untuk mengetahui kejelasan nama dari agama suku Dayak Kalimantan, yang pada waktu itu disebut sebagai “Agama Heiden”, “Agama Kafir” dan “Agama Helo”. Salilah menjelaskan bahwa nama agama orang Dayak adalah Kaharingan yang artinya “kehidupan yang abadi dari Ranying Mahatala Langit”. Dalam bahasa Dayak Ngaju sehari-hari kata Kaharingan berarti “hidup” atau “ada dengan sendirinya” sementara dalam basa Sangiang yaitu bahasa para imam ketika menuturkan mitos-mitos suci, Kaharingan berarti “hidup atau kehidupan”. Pada zaman Jepang, Kaharingan mendapat penghargaan dan kedudukan yang terhormat. Untuk mencari simpati dan dukungan dari orang-orang Dayak, penguasa militer Jepang menyatakan Agama Kaharingan ada kaitannya dengan Agama Shinto, karena itu pada zaman Jepang untuk kali pertama agama suku ini diangkat dan diterima sebagai agama yang terpandang bahkan dijadikan partner serius pemerintah dalam menangani kebudayaan. Untuk mengetahui lebih banyak tentang Kaharingan serta kebudayaan Dayak, pemerintah Jepang menyediakan semacam Pusat Penelitian (Puslit) yang disebut dengan Bagian Penyelidik Adat dan Kebudayaan Kalimantan. Salah satu kegiatan Pusat Penelitian yang berkedudukan di Banjarmasin dan di bawah pimpinan Prof. K. Uyehara adalah melakukan ekspedisi ke daerah pedalaman untuk mengadakan survei dan pendokumentasian adat dan kebudayaan Dayak. Dalam perjalanan ke pedalaman itu, dibawa serta orang-orang lokal yang dianggap tahu banyak tentang Kaharingan dan kebudayaan Dayak, antara lain Tjilik Riwut dan Damang Yohanes Salilah.
Banyak orang beranggapan bahwa Kaharingan bukanlah agama, melainkan hanya adat, kebudayaan, atau aliran kepercayaan milik masyarakat suku Dayak di Kalimantan. Anggapan seperti itu muncul karena negara hanya mengakui enam agama resmi.Para penganut Kaharingan sempat mendapat label sebagai orang yang tak beragama. Kaharingan dinilai hanya agama orang pedalaman atau penghuni hutan tropis. Agama masa lampau dan diramalkan bakal punah seperti kayu lapuk.”Itu tidak benar,” kata Marko Mahin, antropolog, penerima beasiswa Ausbildungschilfe, Jerman, 1992-1997. Dia juga menjadi mahasiswa lulusan terbaik dari Sekolah Tinggi Teologi (STT) Jakarta dengan predikat cum laude.Sejak 30 Januari lalu, Marko menyandang gelar doktor antropologi setelah lulus dengan predikat cum laude dari Program Pascasarjana Antropologi, Universitas Indonesia. Disertasinya yang berjudul Kaharingan, Dinamika Agama Dayak di Kalimantan Tengah (Kalteng) dia pertahankan tanggal 29 Desember 2009.Gelar intelektual ini istimewa karena diraih oleh putra Dayak Ngaju. Marko lahir di Sei Kayu, Kecamatan Kapuas Barat, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah. Kaharingan adalah agama Dayak Ngaju sejak ribuan tahun lalu.”Saya lelah dengan penggambaran sewenang-wenang tentang Kaharingan. Mereka dilabel dan distigma sebagai kafir, penganut agama kegelapan, atau agama para pengayau,” kata penerima beasiswa dari Netherlands Education Center (NEC) Indonesia untuk program S-2 di Universitas Leiden, Belanda, dan beasiswa dari Global Ministry International, Amerika Serikat, (2006-2009) ini.Marko meyakini, pasti ada penjelasan ilmiah yang lebih manusiawi dan tidak diskriminatif. Untuk membuktikannya, antropolog, teolog, dan pendeta yang bertugas sebagai pengajar agama dan kebudayaan di Sekolah Tinggi Teologi Gereja Kalimantan Evangelis (STT-GKE), Banjarmasin, Kalimantan Selatan, ini membaur dengan para penganut Kaharingan selama setahun untuk mengkaji Kaharingan dan penulisan disertasi.”Kaharingan itu agama para leluhur Dayak. Saya terpanggil meneliti sekaligus menyelami keluhurannya,” ujar Marko yang juga memperoleh Visiting Research Fellowship, Asia Research Institute (ARI) of the National University of Singapore, pada Mei-Juni 2008.Itu sebabnya dia terlibat langsung pada berbagai upacara yang digelar pengikut Kaharingan, seperti upacara Tiwah (ritual kematian tahap akhir), dan upacara Basarah (ibadah rutin Kaharingan setiap Kamis atau malam Jumat).
Kaharingan itu adalah agama yang dilahirkan masyarakat Dayak di Kalimantan, bukan impor dari luar. Secara sosial dan historis, agama ini berbeda dengan Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu.Kaharingan awalnya tak bisa mengikuti ukuran beragama seperti keenam agama itu, yang antara lain punya hari besar, rumah peribadatan, dan organisasi keagamaan. Tak mengherankan jika ada yang meramalkan, agama Dayak ini akan punah seperti kayu lapuk.Pendapat itu, ungkap Marko, kontras dengan faktanya. Kaharingan mempunyai sistem adaptif yang baik terhadap perubahan sosial dan modernisasi. Kepercayaan ini pertama kali diperkenalkan Tjilik Riwut tahun 1944, saat menjabat Residen Sampit dan berkedudukan di Banjarmasin.Mitos suciKata ’kaharingan’ semula hanya dipakai pada upacara ritual keagamaan Dayak Ngaju, dalam basa sangiang, bahasa ritual para balian (imam) saat menuturkan mitos-mitos suci. Kata ’kaharingan’ berarti hidup atau kehidupan. Tahun 1945, Kaharingan diajukan kepada pemerintah pendudukan Jepang di Banjarmasin sebagai penyebutan bagi agama Dayak.Tahun 1950, dalam Kongres Sarikat Kaharingan Dayak Indonesia, Kaharingan resmi dipakai sebagai generik untuk agama Dayak. Tahun 1980, para penganutnya berintegrasi dengan Hindu, menjadi Hindu Kaharingan.”Hindu dipilih bukan karena ada kesamaan dalam ritualnya, melainkan sebagai agama tertua di Kalimantan,” katanya.Dalam perkembangannya, mereka punya tempat untuk beribadah kepada Sang Pencipta Ranying Hattalla Langit (Tuhan Yang Maha Esa), yakni Balai Basarah atau Balai Kaharingan. Tahun 2006 di Kalteng terdata 212 Balai Basarah.Mereka juga punya kitab suci, Panaturan, dan buku agama lain, seperti Talatah Basarah (kumpulan doa), Tawar (petunjuk tata cara meminta pertolongan Tuhan dengan upacara menabur beras), Pemberkatan Perkawinan, dan Buku Penyumpahan/Pengukuhan (untuk acara pengambilan sumpah/pengukuhan jabatan).Mereka juga merayakan hari keagamaan, mendirikan organisasi keagamaan untuk pembinaan umat mulai dari desa hingga provinsi, mendidik guru agama, dan mencetak buku agama mulai dari SD hingga perguruan tinggi, mengadakan Festival Tandak, seperti Musabaqah Tilawatil Quran dan Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi), serta membangun kompleks pemakaman dan Sandung.Sejak tahun 1980 mereka dimasukkan sebagai penganut Hindu.
Badan Pusat Statistik Kalteng tahun 2007 mencatat ada 223.349 orang penganut Kaharingan. Perkembangan agama ini di Kalteng meluas ke suku Dayak lain, seperti Dayak Luangan Ma’anyan, Tumon, dan Siang. Meskipun sistem kepercayaannya berbeda dengan Dayak Ngaju, agama yang mereka anut juga disebut Kaharingan.Dayak Meratus di Kalsel, Dayak Tunjung dan Benuaq di Kaltim juga menyebut agama mereka Kaharingan. Di Kalbar ada Dayak Uud Danum (Ot Danum) di Embalau dan Serawai, yang menggelar upacara Tiwah.”Para penganut Kaharingan sangat rasional dalam menjalankan keluhuran agamanya, sama seperti agama lain,”.
Penduduk asli Pulau Kalimantan adalah Suku Dayak. Mereka terbagi dalam 405 sub suku, yang masing-masing mempunyai bahasa dan adat-istiadat sendiri-sendiri. Dan ratusan subsuku Dayak tersebut, Ch.F.H. Dumani membagi Suku Dayak dalam 7 kelompok, yaitu Ngaju, Apu, Kayan, Iban, Klemantan (Darat), Murut, Punan, dan Danum. Sedangkan Tjilik Riwut juga membagi dalam 7 kelompok, tetapi sedikit berbeda dengan Ch.F.H. Duman, yaitu:1) Dayak Kayan, yang daerah persebaraniniya meliputi Kabupaten Bulungan di Kalimantan Timur dan Serawak di Malaysia; 2) Dayak Punan, yang daerah persebarannya meliputi Kabupaten Berau dan Kutai di Kalimantan Timur; 3) Dayak Iban, yang daerah persebarannya meliputi Kabupaten Kapuas Hulu di Kalimantan Barat dan Serawak di Malaysia; 4) Dayak Ot Danum, yang daerah persebarannya meliputi bagian besar Kalimantan Tengah;5) Dayak Klemantan, yang daerah persebarannya mehiputi Kahimantan Barat bagian selatan;6) Dayak Ngaju, yang daerah persebarannya mehiputi Kahimantan Selatan dan Kalimantan Tengah bagian Tengah; 7) Dayak Kenyah, yang daerah persebarannya meliputi Hulu Sungai Belanyan dan Sungai Mahakam di Kabupaten Kutai, Kalimantan Timur.
Sebelum datangnya agama-agama tradisi besar dan resmi diakui oleh pemerintah Indonesia, masyarakat Dayak telah memiliki kepercayaan sendiri, yang disebut Kaharingan. Kepercayaan Kaharingan memuat aturan-aturan kehidupan yang nilai-nilai dan isinya bukan hanya sekedar adat-istiadat, tetapi juga ajaran untuk berperilaku. Kepercayaan Kaharingan ini tidak memiliki kitab suci dan ajarannya hanya disampaikan secara lisan dan turun-temurun. Menurut kepercayaan Kaharingan, masyarakat Dayak mempercayai banyak dewa di sekitar mereka, seperti dewa-dewa yang menguasai tanah, sungai, pohon, batu, dan sebagainya. Dari dewa-dewa tersebut, terdapat dewa yang tertinggi, yang sebutannya berbeda-beda antara Sub suku Dayak satu dengan yang lainnya, misalnya Dayak Ot Danum menyebut dewa yang tertinggi Mahatara, sedangkan Dayak Ngaju menyebutnya Ranying Mahatalla Langit. Setiap orang yang akan melakukan sesuatu pekerjaan harus meminta ijin terhadap dewa-dewa yang bersangkutan agar tidak terjadi bencana, kesialan, sakit, dan sebagainya. Orang Dayak juga mengenal isyarat-isyarat alam apabila hendak bepergian jauh, seperti arah terbang burung, suara burung-burung tertentu, ada ular yang melintas di depannya, dan sebagainya. Hal ini bukan karena orang Dayak tidak percaya adanya Tuhan. Mereka percaya adanya Tuhan, tetapi Tuhan tidak berbicara langsung kepada manusia, melainkan dengan perantara alam atau isyarat-isyarat alam tersebut.
Seperti halnya agama-agama Samawi yang meyakini bahwa manusia berasal dari satu nenek moyang yang sama yaitu Nabi Adam dan Hawa, maka menurut kepercayaan agama Hindu Kaharingan mengenai asal-usul manusia memiliki cerita yang berbeda. Menurut kepercayaan agama ini bahwa manusia berasal dari keturunan raja Bunu yang sedang menuju jalan pulangnya kepada Tuhan penguasa semesta atau Ranying Hatala Langit.Raja Bunu sendiri adalah salah satu anak dari pasangan Manyamei Tunggul Garing Janjahunan Laut dan Kameloh Putak Bulau Janjulen Karangan Limut Batu Kamasan Tambun yang diyakini oleh pemeluk agama Hindu Kaharingan sebagai manusia pertama yang diciptakan oleh Ranying Hatala Langit yang sengaja diciptakan untuk menghuni bumi dengan ciri-cirinya sebagai berikut :keturunannya tidak bisa hidup abadi dan akan meninggal dunia setelah memperoleh keturunan yang ke sembilanMakanan sehari-hari mereka adalah nasi, lauk pauk dan sebagainya karena berbeda dengan Ranying Hatala Langit yang bisa kenyang hanya dengan menginang, keturunan Raja Bunu ini tidak akan mampu hidup hanya dengan menginang. Disamping Raja Bunu sebenarnya pasangan Manyamei Tunggul Garing Janjahunan Laut dan Kameloh Putak Bulau Janjulen Karangan Limut Batu Kamasan Tambun ini memiliki dua anak lainnya yaitu Raja Sangen dan Raja Sangiang, tapi karena satu hal maka yang kemudian mewarisi tinggal di bumi pada akhirnya hanyalah Raja Bunu beserta keturunannya saja sedangkan kedua saudaranya yaitu Raja Sangen dan Raja Sangiang hidup abadi khayangan.
Cerita mengenai kenapa hanya Raja Bunu yang tidak bisa hidup kekal seperti kedua saudaranya ini adalah karena ketika ketiga beraudara ini bermain di sungai mereka bertiga tanpa sengaja menemukan sebuah besi aneh bernama Sanaman Lenteng. Dikatakan aneh karena besi ini berbeda dengan besi pada umumnya yang tenggelam bila berada di air, maka besi Sanaman Lenteng ketika ditemukan kondisinya dalam keadaan separuh tenggelam dan separuhnya lagi timbul di permukaan sungai.Dan entah karena faktor kebetulan saja atau memang telah digariskan oleh Ranying Hatala Langit untuk menghuni bumi, Raja Bunu ketika menemukan besi ini beliau memegang ujung besi yang tenggelam, sedang saudaranya memegang pada ujung lainnya yang timbul di permukaan. Dan karena memegang ujung yang tenggelam inilah maka Raja Bunu menjadi tidak bisa lagi hidup kekal seperti kedua saudaranya yaitu Raja Sangen dan Raja Sangiang.Besi yang ditemukan oleh ketiga saudaranya ini kemudian di bawa pulang dan oleh ayah mereka dibuat menjadi benda yang mirip pisau pisau bernama Dohong Papan Benteng Raja Bunu dan kedua saudaranya dianugrahi juga oleh Ranying Hatalla Langit seekor burung yang bernama Gajah Bakapek Bulau Unta Hajaran Tandang Barikur Hintan. Mereka dianugrahi seekor burung itu ketika mereka sedang berada di sebuah bukit yang bernama Bukit Engkan Penyang.Ketika tiga bersaudara ini menemukan burung Gajah Bakapek Bulau Unta Hajaran Tandang Barikur Hintan mereka pun saling berebut untuk memilikinya. Tak satu pun dari mereka mau mengalah dan memberikannya pada salah satu saudara mereka, hingga kemudian karena kesal Raja Sangen menghunus dohong-nya dan menusukannya pada perut burung itu hingga darah burung itu mengucur keluar dengan begitu derasnya. Raja Sangen yang tadi menusuk burung itu kemudian mengambil sangku (sejenis mangkuk) dan menadah darah burung yang mengucur tadi. Aneh bin ajaib, darah burung yang terkumpul di sangku itu tiba-tiba berubah menjadi emas, permata dan berlian. Begitu ayah mereka mengetahui perbuatan anaknya dan karena takut ketiga anaknya mendapat kutukan dari Ranying Hatala Langit maka ayahnya pun dengan kesaktiannya menyembuhkan kembali burung tersebut seperti sedia kala. Tapi karena iri dengki dengan apa yang di dapat oleh Raja Sangen, maka Raja Sangiang pun melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Raja sangen yaitu menusuk burung itu kemudian menadah darahnya dalam sangku. Kejadiannya pun sama persis dengan Raja Sangen, Raja sangiang pun mendapat emas dan berlian melalui darah burung itu. dan ayah mereka pun kemudian seperti tadi, dengan kesaktiannya berhasil menyembuhkan kembali burung itu.Begitu mengetahui burung itu dapat disembuhkan kembali, Raja Bunu pun kemudian menginginkan hal yang sama seperti kedua saudaranya. Tapi sayang, setelah mendapat apa yang diinginkannya, burung itu tak lagi dapat disebuhkan oleh ayahnya karena luka yang diderita burung ini terlampau parah. Burung ini kemudian terbang menjauh dari mereka dengan darah yang terus menetes. Darah burung yang menetes itulah yang kemudian menjadi kekayaan yang melimpah ruah di tanah yang terkena tetesannya. Karena kondisi fisik yang begitu parah akhirnya burung itu pun mati. Tempat dimana burung mati inilah kemudian dipenuhi dengan kekayaan yang melimpah yang abadi yaitu surga atau yang menurut kepercayaan agama Hindu Kaharingan disebut Lewu Tatau.
Tabe salamat lingu nalatai,
YUSUP RONI TAMANGGUNG SINGAPUAR

One thought on “KAHARINGAN, AGAMA LELUHUR DAYAK

  1. Ranying Hatalla Langit Katamparan, Ela Buli Manggetu Hinting Bunu Panjang, Isen Mulang, Manetes Rantai Kamara Ambu penyang Hinje Simpei Paturung Humba Tamburak, Hatangku Manggetu Bunu, Kangkalu penang mamangun Betang, Hatamuei Lingu Nalatai, Hapangaja Karendem Malempang.

    Menciptakan manusia yang berkeTuhanan, membina integritas kepribadian dengan identitas dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara untuk mempersatukan dan menetapkan persatuan dan kesatuan masyarakat pendukungnya dan untuk meningkatkan kesejahateraan dalam kehidupan bermasyarakat dengan tujuan mewujudkan kehidupan yang damai, adil dan beradab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s