MISTERI BUKIT JEKAN


Lebih dari dua abad yang lalu sekelompok warga suku Dayak Ot Danum, yang berasal dari desa Tumbang Mangara di hulu sungai Talunei anak sungai Samba cabang sungai Katingan, melakukan eksodus (perpindahan tempat) ke delta sungai Kahayan. Tujuan pemimpinnya Oko Jekan (Oko dalam bahasa Dayak Ot Danum berarti orang tua yang disegani, dihormati dan dianggap sebagai pemimpin; dalam bahasa Dayak Ngaju : Ongko) membawa kerabatnya itu adalah untuk mencari daerah yang subur tempat bertani atau berkebun.
Dapat kita bayangkan betapa lebatnya hutan rimba belantara Kalimantan dewasa itu. Tidak terceriterakan bagaimana sulitnya mereka menembusnya hingga tiba di suatu perbukitan di tepi sebuah seha (rawa-rawa tepi sungai) sekitar dua ratus depa jauhnya dari tepi sungai Kahayan. Hutan belukar di tempat itu penuh dengan satwa seperti babi dan rusa, sedangkan di seha banyak ikannya.
Oko Jekan langsung saja memilih tempat itu dan mendirikan pondoknya, lalu diikuti oleh kerabatnya. Keadaan yang tenang dalam berusaha dan berjuang mencari kehidupan (struggle for life) itu hanya berlangsung sekitar dua puluh tahun. Oko Jekan meninggal karena usia tua dan dikuburkan di belakang rumahnya.
Nasib dan peruntungan Oko Jekan tidak berlaku pada kerabatnya yang ikut berusaha dan bermukim di tempat itu. Mereka sering ditimpa wabah penyakit seperti cacar dan malaria. Malah ada satu penyakit yang cukup aneh, pagi hari badan demam dan menggigil, sorenya pasti meninggal dalam keadaan kejang.
Sore diserang penyakit itu, subuh pasti meninggal dan jika subuh terkena pastilah siang harinya tidak bernyawa lagi. Banyak sudah mereka itu yang meninggal dan semuanya dikuburkan berdekatan dengan kubur Oko Jekan. Kuburan Oko Jekan dan kerabatnya itu menurut keterangan orang tua-tua dahulu diperkirakan letaknya sekitar Hotel Foni sekarang (jalan Karel Sasuit Tubun, Palangka Raya).
Karena peristiwa itu maka seluruh keturunan dan kerabat Oko Jekan memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya. Tetapi sebagian di antaranya ada yang bertahan di di suatu tempat di dalam sungai Rungan yang danaunya berbentuk tapal kuda serta banyak ikannya, itulah desa Petuk Katimpun sekarang.
Sejak meninggalnya Oko Jekan serta semua warganya meninggalkan pemukiman mereka itu, maka daerah perbukitan tepi seha itu dinamakan orang-orang desa Pahandut dengan Bukit Jekan. Lokasi tempat itu adalah daerah dataran perbukitan mulai dari Telkomsel sampai kaki jembatan Kahayan sekarang.
Kemudian dari pada itu tersebut pula Jaya Angin yang beristerikan Nunyang, anak Singa Nyahu, kepala desa Penda Barania. Jaya Angin yang berasal dari desa Tumbang Kurun (sekarang Kuala Kurun, ibukota kecamatan Kurun sekaligus ibukota kabupaten Gunung Mas), pindah dan menetap di desa mertuanya. Ketika Singa Nyahu meninggal dunia, Jaya Angin terpilih menggantikan mertuanya sebagai kepala desa.
Kepemimpinan Jaya Angin yang dianggap melaksa-nakan tugasnya dengan baik, teratur dan lancar serta aman tenteram mendapat perhatian Pemerintah Belanda waktu itu. Keberhasilannya sebagai pemimpin dinilai pantas mendapat gelar Dambung, sehingga namanya menjadi Dambung Jaya Angin.
Kehidupan Dambung Jaya Angin cukup mapan karena ia juga berdagang hilir mudik sungai Kahayan. Ia memiliki sebuah kapal motor tempel yang juga disebut setempel.
Dalam usia tuanya Dambung Jaya Angin bermimpi bertemu seorang tua yang berkata kepadanya agar jika ia meninggal nanti, berpesanlah kepada keluarga supaya dikuburkan di Bukit Jekan. Lokasi tempat pemakaman itu ada cirinya berupa tumbuhnya pohon kayu ehang, garunggang, mantahur dan jinjit. Tanah di antara keempat batang pohon itulah tempatnya.
Selanjutnya orang tua di dalam mimpi Dambung Jaya Angin itu mengatakan : “Pada suatu waktu nanti di masa depan, tempatmu berkubur itu akan menjadi ramai dan menjadi sebuah kota besar. Saat ini tempat itu adalah hutan belukar saja, sebenarnya di situlah istanaku”.
Dambung Jaya Angin lalu mengajak anak-anaknya pergi ke Bukit Jekan untuk melihat kebenaran mimpinya itu. Aneh sekali, ternyata semuanya benar dan di antara keempat batang pohon tadi tanahnya kosong serta bersih. Menemui kebenaran hal itu seorang anak Dambung yang bernama Taur lalu mendirikan rumah di Bukit Jekan itu. Ia berkeinginan agar ayahnya tinggal di situ hingga wafatnya nanti dan dekat dengan tempat pemakaman yang disediakan orang tua gaib itu.
Tapi apa yang terjadi ? Sebelum rumah itu selesai Dambung Jaya Angin meninggal dan tidak sempat mendiaminya. Dambung Jaya Angin dikuburkan di tempat sesuai pesan orang tua gaib tersebut.
Lebih dari dua puluh tahun kemudian, Taur Angin yang berdiam di rumah yang dahulu dibangunnya untuk ayahnya itu juga meninggal. Ia pun dikuburkan berdekatan dengan makam ayahnya itu. Tempat itu sekarang berada di halaman Gedung DPRD Provinsi Kalimantan Tengah, sebelumnya Kantor Gubernur Kalimantan Tengah.
Pada tahun 1957 desa Pahandut termasuk Bukit Jekan ditetapkan menjadi lokasi ibukota Provinsi Kalimantan Tengah berdasarkan hasil penelitian sebuah Panitia yang diterima oleh Raden Tumenggung Aria Milono (Gubernur Pembentuk Provinsi Kalimantan Tengah) dan disetujui oleh Pemerintah Pusat.
Pengresmian dimulainya pembangunan kota Palangka Raya sebagai ibukota Provinsi Kalimantan Tengah berupa pemancangan tiang pertama yang dilakukan pada tanggal 17 Juli 1957 oeh Presiden Republik Indonesia pertama DR. Ir. H. Soekarno. Lokasi tersebut sekitar 200 meter jauhnya dari makam Dambung Jaya Angin, di tepi tebing Bukit Jekan yang menghadap sungai Kahayan.
Selanjutnya pembangunan perkantoran dilakukan berpusat di Bukit Jekan, antara lain Kantor Gubernur lama (makam Dambung Jaya Angin di halaman depannya), kantor Dinas Pertanian, kantor Dinas Pekerjaan Umum, kantor Dinas Kesehatan, kantor Dinas Perikanan, Pesanggrahan Negara dan sebagainya. Pesan orang tua gaib dalam mimpi Dambung Jaya Angin menjadi kenyataan.
Sejak bulan Desember 1959 Pemerintah Daerah Provinsi Kalimantan Tengah secara resmi dipindahkan dari Banjarmasin dan berkedudukan di Palangka Raya. Sebuah Panitia beranggotakan para tokoh desa Pahandut dan pejabat dari dinas/instansi terkait dibentuk untuk memindahkan makam Dambung Jaya Angin dan anaknya itu. Keluarga keturunan Taur Angin pun dihubungi tentang rencana tersebut, menyangkut lokasi baru, biaya pemindahan dan biaya upacara ritual yang semuanya ditanggung Pemerintah Daerah.
Seminggu kemudian nampak bergegas Gubernur Tjilik Riwut didampingi M. Agoes Ibrahim (Bupati diperban-tukan pada Kantor Gubernur Kalimantan Tengah) dan Itar Ilas (anggota Panitia Pemindahan Makam) menemui keluarga Taur Angin.
Dalam pertemuan itu Tjilik Riwut menyampaikan mimpinya bahwa ia bertemu dengan orang tua yang lengan dan kakinya bertatto (Dayak Ngaju : totang). Kesimpulannya adalah pemindahan makam Dambung Jaya Angin dibatalkan dan tetap dibiarkan di tempatnya semula. Maka hingga kini di halaman depan Kantor Gubernur lama yang sekarang menjadi Gedung DPRD Provinsi Kalimantan Tengah (jalan S. Parman, Palangka Raya) dapat disaksikan makam Dambung Jaya Angin tersebut.
Berdasarkan Undang-undang No.5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Daerah, maka Kotapraja Palangka Raya dirubah menjadi Kotamadya Daerah Tingkat II Palangka Raya dengan dua kecamatan yakni kecamatan Pahandut dan kecamatan Bukit Batu. Kecamatan Pahandut terdiri atas 8 desa yakni Pahandut, Bereng Bengkel, Kereng Bengkirai, Palangka, Langkai, Tumbang Rungan, Petuk Katimpun dan Kalampangan.
Sekarang ini kecamatan Bukit Batu dimekarkan dengan penambahan kecamatan Rakumpit. Kecamatan Bukit Batu terdiri dari desa-desa Marang, Tumbang Tahai, Banturung, Tangkiling (ibukota kecamatan), Sungai Gohong, Kanarakan dan Habaring Hurung. Sedang kecamatan Rakumpit terdiri dari desa-desa Petuk Bukit, Panjehang, Petuk Barunai, Mungku Baru (ibukota kecamatan), Pager, Gaung Baru dan Bukit Sua.
Sedangkan kecamatan Pahandut dimekarkan dengan tambahan dua kecamatan yakni kecamatan Sebangau dan kecamatan Jekan Raya (kembali nama Jekan diabadikan). Kecamatan Pahandut terdiri dari desa-desa Pahandut (ibukota kecamatan), Panarung, Langkai, Tumbang Rungan, Pahandut Seberang dan Tanjung Pinang. Kecamatan Sebangau terdiri dari desa-desa Bereng Bengkel, Kalampangan (ibukota kecamat-an), Kereng Bengkirai, Kameluh Baru, Danau Tundai dan Sabaru. Ada pun kecamatan Jekan Raya terdiri dari desa-desa Palangka, Menteng, Petuk Katimpun dan Bukit Tunggal (ibukota kecamatan).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s